Tips Mengatasi Rasa Takut Saat Mendaki

Rasa takut saat mendaki kerap kali kita rasakan. Apalagi kalo sobat pejalan sudah mengetahui kisah-kisah misteri sebelum kita mendaki. Nah bagaimana kita mengatasi rasa takut saat mendaki gunung apalagi yang terkenal dengan keangkerannya.

Hutan dan gunung memang banyak menyimpan cerita misteri dan mistik, tetapi hal itu tentunya bukan menjadi alasan dong untuk kita nggak mendaki gunung tersebut. Nah agar kita bisa mendaki dengan lancar tanpa harus digoda mahluk-mahluk halus sebaiknya kenali dulu gunung yang akan sobat pejalan daki.

Tiap gunung tentu memiliki cerita mistis yang membuat bulu kuduk berdiri. Tetapi memang ada beberapa gunung di Pulau Jawa ini yang terkenal dengan aura mistisnya. Bisa karena keanggkerannya atau karena kesucian gunung tersebut yang selalu dijaga oleh mahluk-mahluk kasat mata.

Beberapa gunung yang memiliki hawa mistis yang cukup kental, ketika berada dikaki gunung maupun ketika mendakinya. Bagi penulis sendiri hawa paling kental aura mistisnya berada pada gunung Lawu. Bisa karena gunung tersebut suci bagi masyarakat dahulu sehingga banyak mahluk kasat mata yang menjaganya.

Selanjutnya Gunung Salak, Slamet, dan Arjuno, dan Raung memiliki tingkatan misteri yang cukup membuat bulu kuduk berdiri. Meski demikian, sebagai seorang pendaki tentu hal tersebut tak menyurutkan kita menggapai puncaknya dan meresapi pesona keindahannya.

Lantas bagaimana ketika kita harus mendaki gunung-gunung dengan aura mistis yang kuat? Beberapa tips diantara tentu didasari oleh sikap kita terhadap gunung tersebut. Bagaimana perilaku kita sebagai tamu tidak berbuat seenaknya pada lingkungan dimana mahluk-mahluk tersebut bersemayam.

Sikap sopan santun, tidak bertindak semaunya, menjaga lingkungan sekitarnya menjadi karakter yang harus dilakukan oleh para pendaki agar tidak mendapat gangguan dari mahluk halus di sekitar gunung tersebut.

Tips kedua, ketika hendak mendaki gunung tersebut. Sebaiknya hindari mencari tau cerita atau kisah misteri dan mistis yang akan sobat naiki. Biasannya cerita ini muncul ketika kita berada di basecamp dimana banyak pendaki yang baru turun dan akan naik berkumpul.

Menghindari cerita-cerita tersebut agar pendaki tidak terbawa dengan sugesti keangkeran suatu gunung. Karena jika psikologi sudah tersugesti dan perasaan takut muncul ketika mau mendaki, maka tentunya pikiran kita menjadi tidak fokus, dan bisa menyebabkan kisah mistis tersebut dapat dialami.

Tips Ketiga diantaranya kemampuan pendaki untuk memfokuskan pikiran pada pendakian. Kekuatan pikiran merupakan modal besar ketika hendak mendaki gunung-gunung yang dikenal dengan keangkerannya.

Ketika mendaki malam hari pun saat pikiran kita fokus pada pendakian, maka gelombang pikiran tidak memiliki celah untuk masuk gelombang-gelombang negatif yang mengganggu pendaki. Jangan pernah pikiran terpecah, artinya saat mendaki jangan memiliki beban persoalan.

Seandainya mengalami hal mistis pun jangan bikin pikiran kita terbawa dengan peristiwa aneh yang baru dialami. Giring pikiran agar fokus pada hal-hal yang masuk akal. Sangkal segala kejadian tersebut dengan berpikir positif dan menganggap tidak pernah ada kejadian tersebut.

Tips keempat usahakan tetap tenang dalam mendaki. Ketenangan merupakan modal penting ketika menghadapi gangguan mahluk halus maupun saat survival. Karena ketika psikologi tenang maka pikiran akal sehat tetap berjalan.

Seandainya harus mengalami peristiwa mistis dengan bertemu mahluk yang tinggal di gunung tersebut, jangan pernah panik dan merasa takut akan kejadian itu. Lebih baik berdiam diri, tenangkan hati dengan berdoa, maka mahluk tersebut lebih memilih menyingkir – semakin takut dan panik semakin senang mereka menggoda…hahaha

Diam disini juga bermaksud tidak menularkan atau menceritakan peristiwa yang dialami kepada anggota tim lainnya, selama dalam masa perjalanan. Lebih baik kita simpan sendiri sob, jika beberapa orang yang mengalami maka lebih baik ambil sikap tahu sama tahu, dan berusaha mengambil sikap tak terjadi apa pun selama perjalanan. Nah kalo sudah sampai bawah atau perjalanan pulang baru deh jadiin bahan cerita.

5 Tips Penting Memilih Carrier Sebelum Pendakian

Pendakian gunung merupakan kegiatan alam bebas yang memiliki resiko cukup besar. Untuk itu pengetahuan tentang dunia pendaki sangat bermanfaat dalam menjaga keamanan dan keselamatan dalam sebuah pendakian.

Kali ini salah satu yang akan dibahas sobat pejalan di dunia pendakian adalah tentang bagaimana sobat memilih tas gunung atau carrier yang cocok dengan tubuh pendaki, sehingga beban yang harus dibawa dapat masuk semua dan nyaman dalam perjalanan.

Terkadang tidak semua pendaki mengetahui bagaimana memilih ransel yang baik dan benar. Sehingga jika kita melihat pendaki yang kerepotan dengan carriernya maka sudah dapat dipastikan pendaki tersebut tidak memiliki pengetahuan terkait memilih ransel yang benar.

Tentunya hal ini tidak dapat disalahkan ketika pendaki tersebut telah membawanya dalam sebuah perjalanan pendakian. Kesalahan dalam memilih ransel tersebut biasanya ketika hendak membeli ransel hanya melihat brand, tanpa dicoba menyesuaikan ukuran dan bentuk badan.

Nah biar nggak salah pilih dalam membeli carrier berikut beberapa tips yang dapat sobat lakukan:

1.Pilih Brand yang terkenal

Umumnya produsen carrier dengan merek terkenal memiliki kualitas yang tidak mengecewakan. Beberapa brand luar negeri diantaranya Osprey, Millet, Deuter, Vaude, atau selawa bisa menjadi pilihan. Sementara untuk brand lokal ada Eiger, REI, Consina juga memiliki kualitas atau kekuatan bahan baku yang cukup bagus.

Ransel yang diproduksi brand luar memang tergolong mahal, karena harga tak pernah berbohong. Sehingga bahan yang digunakan oleh brand ini lebih kuat jika dibandingkan dengan merek-merek lokal yang tidak jelas dan cepat rusak.

Tipsnya : Umumnya ransel brand luar dibuat dengan menyesuaikan bentuk tubuh masyarakat negaranya yang berpostur tinggi dan besar, sehingga terkadang meski kualitas bagus tapi tidak pas dengan postur dan ukuran tubuh orang Indonesia. Sebaiknya dicoba terlebih dahulu, tetapi kalo memang sobat bertubuh  kecil disarankan memilih brand lokal yang memiliki ukuran standar orang Indonesia.

  1. Perhitungkan Fungsi Carrier

Sebelum membeli carrier atau memilih ransel untuk pendakian, sebaiknya sobat pertimbangkan dengan fungsi tas tersebut. Jangan sampai hanya untuk perjalanan di kota satu malam sobat menggunakan carrier ukuran besar.

Ransel yang ada beli sebaiknya disesuaikan dengan kepentingan sobat berpergian. Ketika sobat ingin melakukan pendakian, maka sesuaikan ukuran carrier dengan berapa lama sobat bakal menginap diatas gunung.

Jika sobat ingin melakukan perjalanan 1-2 malam, maka sebaiknya pergunakan carrier ukuran 50 liter. Tetapi jika sobat ingin berlama-lama diatas gunung antara 3-5 hari maka pergunakanlah carrier ukuran 80 liter. Jika ingin melakukan pendakian estafet yang memerlukan waktu 1 minggu ke atas maka pergunakanlah carrier ukuran 100 liter keatas.

Hal ini tentu disesuaiakan antara volume ransel yang akan digunakan dengan kebutuhan logistik, peralatan pendakian, hingga baju ganti yang akan dibawa yang tentunya memerlukan ruang yang lebih banyak ketika sobat makin lama dialam bebas.

  1. Perhatikan Tingkat Kenyamanan Carrier

Kenyamanan carrier merupakan poin yang sangat penting dalam membeli atau menggunakan carrier saat melakukan pendakian. Poin ini tentu berkaitan dengan bentuk tubuh yang tentunya disesuaikan dengan punggung pendaki.

Sebaiknya pilih ransel yang sesuai dengan torso sobat. Hal ini bisa distel antara panjang punggung dengan setelan yang ada di carrier. Ilmu kasarnya, dasar carrier harus berada diatas pantat, tepatnya berada dipinggang pendaki.

Untuk carrier jaman sekarang, pembuatan carrier mulai memperhatikan kenyamanan pendaki dalam membawa beban sehingga mereka menciptakan air back sistem yang empuk sehingga sirkulasi udara di punggung sangat baik, sehingga tidak mengalami kegerahan.

  1. Jenis Kelamin

Ukuran carrier dibuat juga mengikuti jenis kelamin manusia. Karena kedua jenis kelamin ini memiliki bentuk tulang belakang dan punggung yang berbeda ukurannya. Sehingga disarankan membeli atau menggunakan carrier yang sesuai dengan jenis kelaminnya.

Jika sobat seorang ladies maka pilihlah carrier dengan label women series, karena ransel ini didesain sesuai dengan bentuk tubuh wanita yang lebih kecil dibandingkan tubuh pria. Tapi jika tidak ada label keterangannya, maka lebih baik dicoba terlebih dahulu. Dari penyesuain torso punggung, bantalan punggung, pinggang, hingga tali penyeimbang.

  1. Perhitungkan Berat Badan

Pertimbangan selanjutnya adalah berat badan pendaki tersebut. Karena idealnya manusia mengangkat beban 1/3 dari berat badan orang tersebut. Sehingga memilih bahan carrier yang ringan tentu menjadi kelebihan tersendiri bagi pendaki.

Semakin ringan berat carrier, maka akan semakin banyak barang yang akan masuk kedalam carrier. Sehingga jika ditotal secara keseluruhan beban carrier dengan isinya akan mencapai 1/3 dari berat badan pendaki tersebut. Misalnya, berat ransel Dueter ACT Lite lebih ringan daripada Futura Pro.