• Desa Wisata
  • Desa Wisata Mukapayung Cililin Sajikan Asyik Bermain Air Tejun

Desa Wisata Mukapayung Cililin Sajikan Asyik Bermain Air Tejun

Pejalan
Updated 09 November 2021

Desa wisata kini banyak diminati para traveler untuk mengisi liburannya dimasa pandemi. Nah salah satu yang bisa kamu nikmati adalah desa wisata Mukapayung, Cillilin yang terletak di Kabupaten Bandung Barat.

Desa ini menyajikan keindahan alam khas tanah Pasudan. Eksotik dengan warisan geologi yang membuat takjub. Sehingga jangan pernah lupakan Desa wisata Mukapayung ini sebagai tujuan liburan kamu.

Desa wisata Mukapayung ini berbatasan dengan desa Rancapangggung di sebelah Barat, desa  Lembang di Selatan Desa Batulayang, di sebelah Timur berbatasan dengan daerah Citiis, Desa Batulayang dan di sebelah utara berbatasan dengan Dusun Cikoneng, Desa Rancapanggung.

Dengan desa seluas 90 Kilometer maka desa ini terdiri dari 4 dusun dan dihuni sekitar 3000 Kepala Keluarga. Dimana mata pencaharian penduduk desa wisata ini sebagian besar sebagai petani. Meski demikian, kini desa tersebut telah dikenal dengan wisata alam dan kulinernya terutama Wahana Wisata Curugan Gunung Puteri dan Rumah Makan Ciminyak.

Jika kamu ingin ke Kawasan Wisata Alam Lembah Curugan Gunung Putri mudah dijangkau oleh kendaraan baik umum maupun pribadi. Bebatuan di Lembah Curugan Desa Mukapayung didominasi oleh batuan Breksi yang berumur pliosen sekitar 2-5 juta tahun yang lalu. Hampir seluruh wilayahnya terjal dan bertebing. Bongkah-bongkah raksasa yang jatuh dari tebing dinding Breksi menambah eksotisme kawasan ini.

Selain sungai Cibitung yang mengalir di lembahnya, makabentuk geologi batuan breksi ini yang menjadi daya tarik bagi para traveler.  Selain dijadikan sebagai tempat penelitian, tempat ini juga asyik dikenal sebagai wisata olahraga (panjat tebing, bersepeda, riverboard atau tubing cube, hiking.

Tebing Hanyawong yang berbentuk vertikal melebar, sepanjang jalan sebelum naik ke Desa Cikoneng merupakan tebing Breksi. Tebing ini, menjadi tempat favorit para climber untuk menjajal kemampuannya mendaki tebing.

Jika kita naik dan agak melipir ke sebelah kanan Tebing Hanyawong, terus berjalan menuju puncak, otomatis kita akan temukan bentukan Breksi seperti payung yang terbuka. Itulah alasan historis Desa ini dinamai Mukapayung.

Tak hanya itu, ada juga bongkahan batuan yang menyerupai kerbau yang terjebak didalam lumpur. Konon batu ini dikaitkan dengan tokoh Mundinglaya dalam cerita sunda yang menjadi dongeng di Mukapayung.

Letak Batu Mundinglaya berada di sawah milik salah satu warga. Layaknya kisah nyata, kini batu ini dijadikan situs budaya dan dikelilingi oleh pagar besi.

Sementara itu, pada sisi kanan Tebing Hanyawong terdapat Gua terbuka dengan aliran Sungai Cibitung yang mengalir di dasar penampangnya. Jika anda menyusuri gua ini emnuju ke arah hulu, anda akan menemukan air terjun yang mungil disertai gua-gua yang kecil.

Tempat menarik lain yang terkenal adalah Gunung Puteri. Letaknya berhadapan dengan Tebing Hanyawong. Jika anda mau mendaki ke Gunung ini, maka anda mesti sebrangi Sungai Cibitung. Selain dihiasi dengan bongkahan batu Breksi yang indah, sungai ini juga sering digunakan untuk kegiatan olahraga riverboard atau water tubing.

Bentuk batuan di Desa Mukapayung ini muncul dari sebuah cerita rakyat Sunda. Cerita yang beredar menjadi sebuah legenda yang dikisahkan sebagai berikut :

Pada zaman dahulu kala, sebuah kerajaan di Tatar Sunda yang membuat sayembara pencarian jimat salakadomas. Siapa saja yang menemukannya akan dinikahkan dengan putri raja dan diangkat jadi Raja. Tersebutlah Mundinglaya dan Ki Jongkrang Kalapitung, dua ksatria gagah perkasa yang menjadi peserta terkuat.

Waktu berlalu, Mundinglaya berhasil menemukan jimat salakadomas. Dengan semangat membara, Mundinglaya dan Munding Dongkol bermaksud mempersembahkan jimat tersebut kepada sang putri. Kabar itu hinggap di telinga Ki Jongkrang Kalapitung. Ki Jongkrang tidak rela, jika Mundinglaya yang akan mempersunting Puteri. Maka, Ki Jongkrang bikin rencana jahat untuk menggagalkan rencana Mundinglaya.

Niat busuk Ki Jongkrang pun dilaksanakan. Ia memasang perangkap batu di aliran sungai Cibitung. Masyarakat Desa Mukapayung menyebutnya Batu Langkob. Ki Jongkrang mengikat Batu Langkob di tebing. Nampak Mundinglaya dan Munding Dongkol berjalan di lembah sungai. Saat keduanya tepat berada di bawah, didoronglah Batu Langkob itu oleh Ki Jongkrang.

Sontak perangkap mengenai Munding Dongkol, ia tewas seketika di tempat. Kedua Batu Langkob itu,sekarang masih ada di aliran Sungai Cibitung. Ki Jongkrang membuat siasat baru. Ia memasang cermin raksasa di barat yang dapat memantulkan apa yang dilakukan sang putri di atas bukit, di bawah payung. Padahal, bukit itu sesungguhnya berada di timur, tepatnya Kampung Mukapayung sekarang.

Ki Jongkrang menggali lubang besar yang ia tutup dengan dedaunan dan ranting untuk menjebak Mundinglaya. Mundinglaya yang girang bukan kepalang karena akan segera menikah dengan puteri, tidak waspada dengan tipu daya. Tak ayal, ia terperosok ke dalam perangkap yang dibuat oleh Ki Jongkrang.

Nah kamu sekarang sudah tau dong cerita dibalik batu yang menyerupai kerbau tersebut. Kalo masih penasaran langsung aja deh di jadwalin untuk berlibur kesana.

User reviews

Belum ada review untuk listing ini.
Untuk mereview silahkan dulu