Wanurejo

 
0.0 (0)
20 0 1 0
desa wanurejo

Info Kontak

Nomor Telp.
082227364990

Informasi

Fasilitas
  • Homestay
  • Musholah
  • Outbound
  • Rumah Makan
  • Tempat Parkir
  • Toilet

DESA WISATA BUDAYA DAN KRIYA

Asal kata Desa Wanurejo diyakini berasal dari bahasa Sansekerta vanua’desa’ dan reja’makmur’. Kata tersebut disebutkan dalam prasasti Mendut atau Karangtengah (812M). Kata vanuareja juga disebut dalam prasasti Canggal (732M) sebagai desa yang makmur pada masa Mataram Hindu.

Asal usul Desa Wanurejo juga diyakini berasal dari leluhurnya yaitu Bendara Pangeran Haryo Tejakusumo, seorang putra dari Sri Sultan Hamengkubuwana II dengan garwa ampean Dewi Rantamsari. Beliau bergelar Wanu Tejokusuma setelah diberi tanah perdikan bernama Wanarejo oleh Sri Sultan Hamengkubuwana II.

Setelah dinobatkan sebagai adipati beliau menikah dengan Roro Ngatirah, putri dari Pangeran Puger dengan garwa ampean Siti Sundari. Untuk menghormati Eyang Wanu Tejakusuma nama desa Wanarejo diubah menjadi Wanurejo. Petilasan dari Eyang Wanu Tejakusuma sampai saat ini masih dapat ditemui dan dikunjungi di Puralaya Cikalan, Dusun Tingal, Desa Wanurejo. Desa Wanurejo juga memiliki ikatan historis dengan Pangeran Diponegoro. Saat terjadi perlawanan Diponegoro tahun 1825 Eyang Wanutejakusuma (Wanurejo) ikut membantu Pangeran Diponegoro melawan Belanda.

Beberapa nama dusun yang ada di desa Wanurejo juga dinamai menurut nama-nama leluhur. Dusun Gedongan diambil dari nama Kyai Zazuli, disebut Mbah Gedong karena beliau merupakan kepala perpustakaan (orang-orang dulu menyebut suatu bangunan dengan istilah gedong). Dusun Soropadan diambil dari nama Eyang Sorok (Mahisa Amantu).

Eyang Sorok merupakan keturunan Brawijaya V yang melarikan diri dari Majapahit kemudian diangkat sebagai panglima perang pada masanya. Nama Dusun Brojonalan tidak terlepas dari nama putra Pangeran Puger yakni Eyang Brojokumoro dan Brojomusti (Citra Lawung) keduanya merupakan panglima perang. Dusun Barepan berasal dari nama Ki Pembarep, seorang lurah tamtama pada masa itu. Dusun Beji diambil dari nama Eyang Surokerto (Mbah Beji) sedangkan Ki Suro Wongsoprawiro atau biasa disebut Mbah Jugil (jugil’mencongkel’) karena seorang pembobol logistik Belanda untuk pribumi dipercayai sebagai leluhur dari Dusun Jowahan.

Peta

Swap Start/End

User reviews

Belum ada review untuk listing ini.
Untuk mereview silahkan dulu