Malioboro

 
10.0 (1)
140 0 5 0
malioboro
head1
malioboro 3
malioboro 2
malioboro 1

Informasi

Fasilitas
  • Tempat Parkir
  • Musholah
  • Toilet
  • Rumah Makan

Jalan ini memang sangat dikenal oleh masyarakat di Indonesia karena mempunyai nilai filosofis dan sejarah yang kuat. Jalan Maliboro ini dikenal sebagai penggerak utama nadi Yogyakarta sejak Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan.

Memang nama Malioboro cukup beken dan terkesan modern dibandingkan nama jalan di daerah Yogyakarta yang biasanya diambil dari nama pahlawan pejuang kemerdekaan Indonesia. Namun asal sahabat Alodia tahu, nama Malioboro pada awal pendiriannya berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti karangan bunga. Namun nama ini juga dikaitkan dengan Marlborough yang merupakan seorang kolonial yang berasal dari Inggris dan pernah tinggal di kawasan Malioboro pada tahun 1811-1816.

Kawasan jalan yang ramai akan wisatawan ini memang sejak dulu menjadi pusat nadi kehidupan masyarakat Yogyakarta. Hal ini tidak lepas dari sejarahnya dimana Jalan Malioboro dibangun tepat di garis sumbu imajiner Gunung Merapi – Kraton Yogyakarta – Pantai Selatan Jawa, sehingga jalan ini merupakan jalan utama di kawasan Yogyakarta.

Menurut sejarahnya sendiri yang dapat Alodia ambil, kawasan Jalan Malioboro awal mulai denyut nadi berkembangnya itu bermula dengan didirikannya kompleks kantor Kepatihan yang merupakan kantor Patih di era jaman Kraton Yogyakarta dengan Patih Danurejo yang terkenal di masa itu. Walau di era sekarang ini Kraton Yogyakarta sudah tidak memiliki Patih, namun Kantor Kepatihan tetap digunakan sebagai Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selanjutnya kawasan ini mulai berkembang lagi di era kolonisasi pada sekitar tahun 1790, didirikan Kantor Gubernur Belanda yang sekarang menjadi Istana Negara dan Benteng Vendeburg di ujung selatan jalan Malioboro yaitu Titik Nol Km Jogja. Terlebih dengan masuknya banyak pedagang yang berasal dari Negeri Tionghoa menambah maraknya masyarakat yang berbondong-bondong ke tempat ini setiap harinya.

Pada awal mulanya, Jalan Malioboro adalah jalan dua arah. Namun karena kepadatan lalu lintas yang semakin tak terbendung, kemudian Pemerintah Kota Yogyakarta pada tahun 1980 mengubahnya menjadi 1 lajur yang mengarah ke selatan, dimulai dari pertigaan yang bersebelahan dengan rel kereta api Stasiun Tugu Yogyakarta.

Di Jalan Malioboro juga terdapat hotel tertua dan terbesar di Yogyakarta, yaitu hotel Garuda. Hotel berbintang lima ini berada di ujung utara Jalan Malioboro, sehingga sangat strategis sekali dan sejak jaman kolonial Belanda menjadi tempat favorit untuk menginap.

Di era masa sekarang ini, Jalan Malioboro telah banyak berubah. Menurut cerita orang tua jaman dahulu, Malioboro adalah tempat yang sangat nyaman karena banyak pohon besar yaitu ringin yang tumbuh di area sekitar Jalan Malioboro, sehingga hawanya sangat terasa sejuk dan rimbun. Terlebih jumlah manusia dan pedagang tidak seramai dulu.

Namun waktu telah berubah, dan banyak mengubah wajah Malioboro. Jalan ini memang dulu sempat ‘semrawut’ dengan banyaknya pedagang kaki lima dan parkiran motor di sepanjang jalan yang belum ditata oleh Pemerintah Daerah Kota Yogyakarta. Namun saat ini wajah Malioboro kembali segar dan cantik dengan dikembalikannya fungsi pedestrian dimana para wisatawan sangat nyaman untuk berjalan di sepanjang Jalan Malioboro.

Peta

Swap Start/End

User reviews

1 review
Overall rating
 
10.0
Pemandangan
 
10.0(1)
Family Friendly
 
10.0(1)
Pelayanan
 
10.0(1)
Harga
 
10.0(1)
Untuk mereview silahkan dulu
Selalu ada setangkup rindu tentang Yogya
(Diupdate: 16 December 2020)
Overall rating
 
10.0
Pemandangan
 
10.0
Family Friendly
 
10.0
Pelayanan
 
10.0
Harga
 
10.0
Yogya, selalu ada banyak asalan untuk hanya sekedar singgah atau tinggal berlama-lama di kota ini. Berbaur dengan keramah-tamahan warganya, menikmati hidangan yang menggoda perut dan lidah, serta menuntaskan kerinduan akan kota yang terbuat dari kenangan dan segenggam rindu.
head1
Laporkan review ini Review ini membantu? 1 0