Perkembangan Wisata Bahari di Indonesia Sejak Pandemi Covid-19

Pejalan
Updated 12 November 2021

Kemunculan covid-19 di tahun 2020 dan mencapai kekhawatiran di kuartal pertama hingga kedua di tahun 2021, perkembangan wisata bahari di Indonesia jelang penghujung tahun 2021 semakin memberikan titik cerah, diiringi dengan penurunan kasus positif covid-19 dan pasien meninggal dunia akibat virus tersebut. Meski begitu, cara baru beraktifitas hingga keseharian masing-masing individu terus dilanjutkan dengan melakukan protokol kesehatan dengan menggunakan masker, melakukan vaksinasi dan selalu cuci tangan usai beraktifitas.

Jika menarik sedikit ke satu tahun sebelum kasus covid-menurun, Bali, hingga pesisir pulau Jawa dan beberapa pulau yang bersinggungan langsung dengan wisata bahari khususnya, di awal tahun 2020 masih bisa merasakan manisnya dunia pariwisata dengan kehadiran para wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Kuota pengunjung masih terpenuhi, dan setiap hari dipastikan tempat penginapan hingga wejangan kuliner yang ada di setiap daerah wisata bahari ada pengunjung. Sayangnya, itu tak berlangsung lama, setelah pemberlakuan PSBB (pembatasan sosial berskala besar) yang menjadi pertanda untuk wasada pandemi covid-19 akhirnya semakin ketat dengan pemberian status PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat) di pertengahan kuartal pertama tahun 2021.

Perkembangan Wisata Bahari Indonesia Setelah PPKM

Usai PPKM diturunkan, maka 'bendera putih' yang kerap dikibarkan para pengusaha wisata khususnya di daerah yang sumber pendapatanya hampir seratus persen dari para wisatawan pun satu-persatu diturunkan. Meski tak serentak karena mengamati perkembangan penyebaran dan penanganan pandemi covid-19, tapi ada harapan jika para pengusaha wisata khususnya di pesisir yang menjadi penopang wisata bahari di pulau Jawa dan Bali bagi para pengusaha dan sektor rill yang terdampak.

Bahkan tak hanya yang berada di pesisir pantai sebagai destinasi wisata bahari, tetapi juga di Garut Jawa Barat misalanya, hampir seluruh hotel di kabupaten tersebut mengibarkan bendera putih. Termasuk hotel yang berdisi di dekat pantai, artinya kondisi ekonomi yang dihantam akibat penyebaran virus covid-19 sangatlah luar biasa.

Hingga akhirnya penurunan PPKM di level satu sebagai status level paling rendah untuk tingkat penyebaran dan penanganan atau bahkan kematian akibat covid-19 diberlakukan, bendera-bendera putih yang berkibar kembali diturunkan termasuk para pengusaha penginapan di pesisir pantai dan juga penjaja kuliner. Tak ayal, ini menjadi titik balik untuk para pengusaha untuk kembali bangkit sehingga terlihat jelas bahwa perkembangan wisata bahari di Indonesia kembali menggeliat.

Meski tidak secara bersamaan, namun apa yang telah dilakukan pemerintah sebagai upaya membangun kembali ekosistem perekonomian dari pariwisata kembali terlihat setelah penanganan darurat di segala sektor akibat penyebaran covid-19.

Memulai Dengan Standar Kenormalan Baru Protokol Kesehatan

Akhir tahun 2021 sepertinya bisa dikatakan sebagai titik permulaan bahwa sektor bahari dan pariwisata serta sektor riil di Indonesia kembali bangkit. Perkembangan wisata bahari di Indonesia juga di momen tersebut sebagai titik untuk berusaha melakukan recovery dari vakum sementara, dan bukan hanya di negara Idonesia, negara tetangga bahkan eropa sekalipun melakukan hal demikian untuk bertahan kemudian bangkit kembali khususnya di sektor wisata yang memiliki ceruk besar dalam perputaran uang.

Memulai semua dengan protokol kesehatan, minimal masker dan penyediaan tempat untuk cuci tangan adalah hal yang wajib ada, dan para pengunjung serta pengusaha wisata bahari dan juga sektor riil memaulai dengan memperhatikan protokol kesehatan, termasuk menyediakan pemindai smartphone yang berisi kode untuk mengaksis aplikasi peduli lindungi.

Kemudian ada juga yang memberikan standar ketat bahwa pengunjung yang masuk ke area tersebut sudah melakukan vaksinasi, semua dilakukan untuk memberikan kenyamanan para pangunjung yang tentu saja tidak ingin jika sepulang dari beraktifitas di lokasi atau tempat tersebut akan mengalami penurunan kesehatan dan bahkan terpapar covid-19.

Tak menutup kemungkinan jika hal tersebut juga dilakukan di okasi wisata bahari di Idonesia, karena ketika melakukan wisata maka variabel yang dimiiki dari lokasi hingga fasilitas tentu menjadi skala priorias, nah, jika standar operasional prosedur (SOP) yang dilakukan tidak memenuhi syarat maka bisa dipastikan pengunjung juga engga untuk singgah.

Baca juga : Wisata Bahari Baru di Teluk Jakarta

Kini, perkembangan wisata bahari di Indonesia menunjukkan harapan yang signifikan, jika pada awal penurunan PPKM masyarakat ramai di sekitar tempat mereka tinggal, maka di beberapa ekan berikutnya keramain terlihat di beberapa titik sebagai destinasi wisata, termasuk pesisir pantai. Dan kebanyakan wisatawan memilih untuk beraktifitas lebh banyak di luar ruang dan memilih tempat penginapan yang memiliki standar prosedur kenormalan baru untuk mencegah penyebaran covid-19.

User reviews

Belum ada review untuk listing ini.
Untuk mereview silahkan dulu