Gunung Gede Yang Kaya Dengan Air Riwayatmu Kini

Gunung Gede Pangrango merupakan dua gunung yang popular bagi pendaki Jawa Barat, dan khususnya bagi pendaki Jabodetabek. Selain memiliki trek yang tidak terlalu berat, gunung ini juga menyimpan pasokan air yang berlimpah.

Jika sebelumnya banyak pendaki yang bermain di seputaran Gunung Salak dengan jalur pendakian terkenal Curug Nangka pada masanya, namun seiring rusaknya dan beratnya medan Gunung Salak, banyak pendaki yang mengalihkan pendakian ke Gunung Gede Pangrango ini.

Menyusuri Gunung Gede pada tahun 1995 memang berbeda jauh dengan sekarang ini. Namun satu hal yang perlu digaris-bawahi adalah melimpahnya air dijalur Cibodasnya membuat banyak menjadikan pendaki favorit dengan jalur ini.

Jalur Cibodas memang langsung menuju puncak Gunung Gede maupun Pangrango, namun memiliki jalur yang tidak terlalu terjal. Selain memberikan beberapa pilihan pemandangan, jalur Cibodas lebih indah dibandingkan dua jalur lainnya, Via G. Putri maupun Salabintana.

Menapaki jalur Cibodas pada tahun 1995 pendaki masih menapaki tanah tidak berjalan diatas papan kayu hingga pertigaan air terjun Cibereum. Salah satu pembeda yang ditemui adalah Pos Rumah Panggung yang saat ini sudah tidak ada lagi.

Pos yang berbentuk rumah panjang terbuat dari kayu ini, dengan posisi ngecamp di lantai atas ini menjadi favorit sebelum melewati tebing air panas. Ketika itu Pos Rumah Panggung selain memberikan pemandangan yang indah, juga menyediakan air yang melimpah. Terdapat 5 hingga 6 paralon yang mengalirkan air dengan deras.

Perjalanan pendaki bisa dilanjutkan menyeberang tebing air panas, disekitar sini banyak terdapat shelter-shelter untuk istirahat dan tak sedikit yang ngecamp dilokasi ini. Tetapi sebenarnya tempat camp yang disediakan berjalan sekitar 500 meter ke atas yang dikenal dengan Kandang Batu.

Pos ini terbuat dari bangunan yang terbuat dari batu dengan sisi belakang terdapat kali yang masih mengalirkan airnya. Tapi saat ini pos ini tidak menjadi tempat ngecamp, selain kali yang sekarang tidak ada airnya, ditambah cerita mistis yang sering dialami pendaki.

Meski demikian, padahal pos yang paling seram pada saat itu, berada di Pos Kandang Badak dibandingkan pos-pos lainnya di jalur Cibodas. Saat itu, Kandang Badak tidak seluas sekarang ini yang banyak membabat bagian jalur menuju kadang badak.

Ketika itu, pos Kandang  Badak belum berbetuk pos atau pun bangunan. Kadang Badak hanya berupa tempat ngecamp berupa seng-seng yang menyeder pada sebuah pohon besar. Dengan sumber air yang terdiri sekitar 3-5 paralon yang semuanya mengalir sangat deras.

Pohon besar tersebut terletak tidak jauh dari paralon sumber air. Hingga kemudian Kandang Badak mulai dibangun berupa bangunan permanen. Sehingga pos ini menjadi tempat ngecamp favorit para pendaki yang ingin mendaki Gunung Gede maupun Gunung Pangrango.

Sayangnya, rasa memiliki, menjaga, dan merawat bangunan Kandang Badak membuat pos ini tidak berjalan lama ditempati. Mungkin berkisar 1-2 tahun pos ini masih dipakai untuk ngecamp didalam bangunan.

Kondisi yang kotor dan jorok, membuat pendaki tidak ada lagi yang ngecamp di dalam bangunan tersebut, tetapi lebih memilih membuka lahan baru dengan menebang pepohonan untuk mendirikan tenda.

Bahkan hingga saat ini lokasi Kandang Badak terus meluas, sedangkan sumber air tidak lagi mengalir deras, tetapi hanya menguncur dari satu atau dua paralon yang tersisa. Lokasi inilah yang banyak mengalami perubahan jaman.

Setelah melewati tanjakan setan yang dahulu belum ada jalur potongnya, pendaki akan mulai mendaki dengan trek yang menanjak. Hingga akan menemukan persimpangan jalan menuju Gunung Gede maupun Gunung Pangrango.

Selain itu, terdapat juga pertigaan jalur menuju kawah atau menuju puncak  Gede. Namun antara tahun 96-97 jalur menuju Kawah Gede tertutup secara alami, karena sangat sedikit pendaki yang menuju kawah, dan lebih memilih puncak Gunung Gede.

Hingga akhirnya pendaki yang menampakkan kaki di Puncak Gede yang jika diteruskan akan menuju Alun-alun Surya Kencana, Dimana sumber air di padang edelweis mengalir dengan deras, sehingga membentuk sungai kecil.

Lantas apa pelajaran yang dapat diamati dari flash back pendakian Gunung Gede ditahun 1995 tersebut. Satu poin yang terpenting yang menjadi perubahan adalah matinya sumber-sumber air yang ada di gunung Gede.

Ketika saat itu air mampu membentuk kali kecil di alun-alun Surya Kencana, atau memancarnya air pada 3 atau 5 paralon di Kandang Badak, mengalirnya air sungai yang terdapat di belakang Kandang Batu mengindikasikan kerusakan hutan yang ada di Taman Nasional Gede Pangrango.

Keberadaan pohon-pohon besar yang menyimpan pundi-pundi air yang rusak berakibat fatal kepada sumber-sumber air yang mengering, sehingga debit air dibeberapa pos pendakian mengecil drastis bahkan ada yang menghilang.

Yuk, kita jaga keberadaan pohonan di hutan, agar sumber air tidak punah seperti sekarang ini, sehingga anak cucu kita bisa merasakan air dari gunung Gede.

 

Penulis : Administrator Pejalan
Deskripsikan tentang anda

Tanggapan anda

Comments

No comments yet