Kejelian Liat Potensi, Kini Ponggok Jadi Desa Terbaik

Ponggok merupakan desa wisata yang tergolong sukses. Kejelian melihat potensi dari seorang kepala desa mampu mengubah desa Ponggok yang dahulunya tertinggal dan banyak terbelit utang rentiner, kini berubah menjadi desa wisata yang mampu menyedot perhatian wisatawan.

Ponggok diawal tahun 2000-an, desa ini merupakan desa yang tergolong miskin, masyarakat desanya banyak yang menganggur. Namun memiliki geografis yang kaya dengan air, berada di lembah antara gunung Merapi dan Merbabu, menjadikan desa ini memiliki mata air atau umbul yang berlimpah.

Berkat kejelian seorang kepala desa Ponggok, Junaedhi Mulyono, dirinya melihat beberapa umbul di desa Ponggok, seperti umbul Sigedang, Besuki, Ponggok, Kapilaler, dan umbul Cokro. Kelebihannya setiap umbul ini memberikan pemandangan yang indah dengan air yang jernih dan asrinya suasana pedesaan.

Potensi yang telah diliriknya ternyata bersambut dengan dana desa yang di programkan pemerintah hingga mencapai 60 triliun untuk 75 ribu desa di seluruh Indonesia. Bermodalkan dana itulah sang kepala desa berusaha mengembangkan desanya.

Menggunakan sistem manajemen Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) maka Junaedhi membentuk BUMdes yang menjadi penyangga dari semua unit usaha yang dikembangkan oleh desa Ponggok tersebut.

Dengan terbentuknya badan usaha tersebut, maka ia langsung memfokuskan perhatiannya pada umbul Ponggok. Sumber mata air tersebut kemudian dirubah menjadi  spot wisata yang menawarkan wisata bawah air.

Setelah terbangun infrastruktur menuju Umbul Ponggok ia pun menyediakan peralatan snorkeling sebagai alat bantu wisata bawah air dan bernarsis bagi para wisatawan. Tak hanya itu, kepala desa juga mengajarkan kepada para pengelolanya yang merupakan warga desa untuk mengenal teknologi dan mempromosikan wisatanya di Instagram.

Hasilnya kini wisata bawah air yang ada di desa Ponggok tersebut menjadi viral. Penduduk desa pun semakin melek teknologi. Mereka kini mampu mengoperasikan smartphone, mengisi pulsa, dan melek sosmed.

Hebatnya lagi, kini desa yang tertinggal tersebut kini menjadi spot wisata untuk wisatawan dalam negeri maupun luar negeri. Bahkan dengan mematok tiket Rp. 15 ribu Umbul Ponggok mampu menyedot perhatian 40 ribu orang dalam tiap minggunya.

Terkenalnya desa mandiri ini membuat Menteri Keuangan, Sri Mulyani berkunjung ke Umbul Ponggok dan kagum dengan desa tersebut, karena masyarakat dan kepala desa mau bekerja untuk membangun desa hingga menjadi desa mandiri.

Tak berhenti menggali potensi pariwisata, kepala desa pun melirik budi daya perikanan. Dengan modal mata air yang jernih dan mengalir deras, ia pun mengajak warganya untuk membuat tambak yang diisi dengan bibit ikan nila.

Ia mendatangkan para penyuluh perikanan dan bibit ikan nila bekerja sama dengan Lembaga Pembibitan Ikan Air Tawar. Hasilnya kini tiap bulan masyarakat mampu memanen ikan nila hingga 4 ton dalam sebulan, dan dipasarkan ke Semarang, Solo dan Yogyakarta.

Kepeduliannya mengangkat derajat masyarakat desa pun ia aplikasi dalam program untuk mencetak setiap rumah harus ada satu sarjana. Ada kartu pinter sehingga semua anak desa itu bisa bersekolalah. Ada jaminan kesehatan desa, sehingga dana disiapkan untuk masyarakat yang sakit, membangun puskesmas dan para medis guna melayani masyarakat.

Kemandirian ekonomi ini memang mampu mengubah desa kumuh menjadi desa yang banyak dikunjungi, sarana dan fasilitas di siapkan dengan baik, terdapat 10 unit usaha desa dari kuliner, resto, penginapan, rental, hingga bidang jasa lainnya.

Ponggok kini berhak bangga karena terpilih sebagai desa yang mampu menjual wisata yang peduli lingkungan. Hingga tahun 2017 silam,pendapatan perkapita mencapai 14,2 miliar, dan APBD 3,9 miliar sebagai desa wisata terbaik.

Penulis : Administrator Pejalan
Deskripsikan tentang anda

Tanggapan anda

Comments

No comments yet