Kekecewaan Pebisnis Pariwisata Bali Terkait Swab

Kebijakan Test swab bagi para wisatawan yang akan berkunjung kembali menuai kekecewaan bagi para pelaku bisnis pariwisata. Pasalnya libur akhir tahun telah dinantikan sebagai obat pulihnya pariwisata di Bali.

Wisatawan yang ke Bali wajib menunjukan surat keterangan hasil negatif uji swab berbasis PCR minimal dua hari sebelum keberangkatan. Bagi mereka kebijakan ini dirasa mendadak dan membuat calon wisatawan yang sebelumnya hendak ke Bali membatalkan kunjungannya.

Hampir seluruh anggota persatuan sopir pariwisata yang beranggotakan 500 orang ini mengeluh karena banyak yang batal. Padahal, momen libur tahun baru ini seperti memberikan setitik harapan di tengah lesunya pariwisata.

Pasalnya hampir delapan bulan ini Bali terguncang dengan merosotnya angka kunjungan wisatawan dalam maupun luar negeri. Hampir semua mengatakan perjalanan ke Bali di tangguhkan.

Mewajibkan tes swab PCR membuat wisatawan domestik berpikir ulang untuk liburan ke Bali karena ada tambahan biaya. Ia berharap, pemerintah kembali membuka Bali seperti biasa dengan syarat protokol kesehatan yang ketat.

Hal yang sama diungkapkan oleh Ketua DPD Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Bali Yoga Iswara. Menurutnya, kebijakan itu membuat banyak terjadi pembatalan pesanan oleh wisatawan kepada hotel-hotel yang ada di Bali.

Saat ini, pihaknya masih menghitung jumlah pembatalan yang terjadi. Belakangan ini kondisi tingkat hunian hotel di Bali sudah perlahan membaik meski belum pulih sepenuhnya. Pada dua pekan bulan Desember ini, tingkat hunian sudah di angka 40 hingga 60 persen.

Ia berharap, kebijakan semacam ini harus dikomunikasikan lebih baik dan tidak mendadak. Apalagi, Bali telah menerapkan protokol kesehatan ketat atau CHSE (cleanliness, health, safety & environment sustainability) bagi pelaku pariwisata.

Penulis : Administrator Pejalan
Deskripsikan tentang anda

Tanggapan anda

Comments

No comments yet