Indonesia Godok Visa Long Term Buat Turis Asing

Industri pariwisata dunia terpukul dengan munculnya pandemic covid 19. Meski demikian keadaan tersebut harus tetap dihadapi dengan optimis, salah satunya kemenparekraf dan Dirjen Kemenkumham tengah menggodok visa long term atay second home untuk wisatawan bisnis.

Kedepannya visa ini akan menyasar para pembisnis wisatawan yang akan masuk ke Indonesia selama 3-4 bulan per tahun. Atau bertepatan dengan musim dingin pada negara mereka. Meski demikian protokol kesehatan tetap dilakukan secara ketat ketika pembukaan kedatangan wisatawan dilakukan.

Beberapa destinasi wisata yang akan dibuka aksesnya bagi wisatawan mancanegara adalah Bali, Batam Bintan, serta destinasi lain yang sesuai dengan bingkai Asean Travel Coridor. Diharapkan proses tersebut segera rampung dalam waktu beberapa pekan ke depan.

Visa kunjungan bisnis dan wisatawan ini juga dikaji untuk meningkatkan layanan e-visa yang dianggap memberikan kemudahan untuk mendapatkan visa. Tujuan dari visa long term ini adalah memberikan pemilik visa untuk berinvestasi di Indonesia.

Harapannya dengan adanya visa long term ini adalah dapat meningkatkan kualitas pariwisata dari segi lama kunjungan dan jumlah pengeluaran. Sehingga akan mempengaruhi dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat ekonomi lokal.

Dengan adanya konsep long term visa ini kasus-kasus wisatawan seperti Kristen Gray yang sempat viral beberapa waktu, serta para pekerja yang ingin melakukan kegiatan digital nomad bisa memiliki payung hukum yang sesuai.

Distribusi Vaksin Bangkitkan Gairah Agen Travel Di Tahun Ini

Vaksin Covid 19 merupakan salah satu harapan yang tumbuh bagi para agen travel di tahun 2021 ini. Pendistribusian dan tingkat keberhasilan mengendalikan Covid 19 ini membuat optimis para agen travel masyarakat akan berwisata di tanah air akan meningkat.

Keberhasilan dan pendistribusian Vaksin akan meningkatkan masyarakat yang akan melakukan perjalanan keluar negeri mulai muncul meski masih menunggu aturan baru dari pemerintah. Diantara destinasi yang dituju adalah Korea, Jepang, dan Qatar yang ingin menyaksikan Piala Dunia 2022.

Sementara itu, dalam masa pandemic Covid 19 ini hampir seluruh sektor Industri pariwisata mengalami penurunan yang tajam, baik itu perjalanan keluar negeri maupun dalam negeri.

Dari lima destinasi super prioritas, yang paling banyak dipilih adalah Labuan Bajo dan Yogyakarta. Namun peminatnya lebih banyak dari perusahaan. Untuk individu dan keluarga lebih memilih berjalan sendiri.

Sedangkan, Sekretaris Jenderal Asosiasi Travel Agen Indonesia (Astindo), Pauline Suharno mengatakan pihaknya rutin memberikan pelatihan untuk mengenalkan tujuan wisata yang ada di Indonesia, terlebih pada destinasi super prioritas.

Denmark dan Swedia Terapkan Sertifikat Vaksin Sebagai Syarat Masuk

Industri pariwisata dunia terpukul oleh pandemi covid 19. Untuk itu pembatasan masuk warga negara asing diterapkan. Namun kali ini Swedia dan Denmark akan melonggarkan pembatasan tersebut dengan menjadikan sertifikat vaksin sebagai syarat masuk ke negara tersebut.

Seperti dilansir dari The Guardian, Denmark negara yang mengumumkan kebijakan tersebut lebih dahulu kemudian disusul Swedia. Sehingga kedepannya sertifikasi tersebut dapat digunakan pelancong untuk berwisata.

Sertifikat ini digunakan sebagai sarana pemeriksaan seseorang apakah sudah di vaksin atau belum, ketika memasuki suatu negara, baik itu untuk acara olahraga atau pun kebudayaan. Bahkan, pemerintah Swedia berharap infrastruktur yang dibutuhkan untuk mengeluarkan sertifikat digital itu sudah siap digunakan pada Juni 2021.

Denmark yang mengumumkan program tersebut sehari sebelumnya, awalnya mereka hanya akan meluncurkan daftar online yang bisa diakses untuk memeriksa status vaksinasi seseorang. Meski begitu, pemerintah Denmark mengatakan mereka akan menunda keputusan akhir tentang apakah “paspor corona” bisa digunakan untuk tak hanya syarat perjalanan saja.

Mereka juga menunggu dilakukannya lebih banyak riset mengenai apakah orang-orang yang sudah divaksinasi ini masih bisa menularkan virus.

Kedua negara tersebut juga mengatakan bahwa usaha-usaha khusus akan dilakukan untuk menjadikan sertifikat nasional ini sesuai dengan sertifikat internasional yang sedang didiskusikan di tingkat World Health Organization (WHO) serta Uni Eropa.

Ini Lho Aturan Jika Ingin Ke Alas Purwo

Alas Purwo yang berstatus Taman Nasional menjadi destinasi wisata terkenal di Banyuwangi, Jawa Timur. Walaupun tetap beroperasional namun selam masa PPKM hingga 11-25 Januari 2021 harus tetap mengikuti aturan yang diberlakukan pemerintah pusat.

Untuk melakukan kunjungan ke sana, ada beberapa aturan dan larangan yang harus dipatuhi para wisatawan agar bisa berkunjung dengan tertib, aman, dan nyaman. Berikut ini 7 aturan saat berkunjung ke Alas Purwo Banyuwangi:

  1. Jam buka terbatas

Selama pandemi Covid-19, TN Alas Purwo membatasi jam operasional wisata, yakni mulai pukul 08.00 – 16.00 WIB.

  1. Jumlah maksimal kapasitas wisatawan

Menurut Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I TN Alas Purwo Probo Wresni Aji, saat ini TN Alas Purwo masih membatasi jumlah kunjungan wisatawan menjadi hanya 500 orang per hari.

Namun, TN Alas Purwo tidak memberlakukan sistem buka tutup. Pasalnya sejak dibuka kembali selama new normal pada pertengahan 2020, pihaknya tidak pernah menerima jumlah pengunjung hingga 500 orang atau lebih dalam sehari.

Untuk Savana Sadengan pun kapasitasnya tetap terbatas, yakni maksimal 50 wisatawan di dalam kawasan tersebut dengan sistem buka tutup.

  1. Beberapa kawasan wisata ditutup

Beberapa kawasan wisata yang terdapat di TN Alas Purwo juga masih ditutup untuk sementara. Kawasan wisata tersebut termasuk semua kawasan goa mencakup Goa Istana, Padepokan, dan Mayangkoro.

Penutupan tersebut dilakukan hingga batas waktu yang belum ditentukan. Untuk menghindari kerumunan dan risiko penularan, bisa jadi kawasan tersebut akan ditutup hingga darurat Covid-19 selesai.

  1. Jaga protokol kesehatan

Selanjutnya, wisatawan yang akan masuk ke TN Alas Purwo harus melengkapi dan melakukan protokol kesehatan yang berlaku. Seperti umumnya yang masyarakat banyak telah ketahui.

  1. Tunjukkan hasil negatif Covid-19

Begitu juga dengan tempat wisata lainnya, sobat pejalan juga harus membawa surat bukti hasil negatif Covid-19 dengan metode rapid test antigen, rapid test antibodi, atau RT-PCR. Nantinya, surat bukti tersebut akan diperlihatkan di petugas yang berjaga di loket.

  1. Unduh aplikasi Peduli Lindungi

Nah kalo ini memang belum banyak diketahui soabt pejalan di sarankan untuk mengunduh aplikasi Peduli Lindungi dan membawa surat pernyataan bertanggung jawab dengan materai Rp 6.000 sebelum berkunjung ke TN Alas Purwo.

  1. Larangan di daerah konservasi

Selain beberapa aturan tersebut, ada pula beberapa larangan lain yang berlaku khusus di daerah konservasi seperti TN Alas Purwo ini. Di antaranya adalah mengambil tumbuhan, membawa kabur satwa, dan berburu. Selain itu, khusus untuk di Savana Sadengan tidak diperkenankan untuk menerbangkan drone.

Ingin Ke Bali? Perhatikan Aturan PPKM Sebelum Berangkat

Bali tetap menjadi destinasi wisata yang ingin dikunjungi oleh traveler meski dalam kondisi PPKM atau Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat. Walau masuk wilayah PPKM tetapi masyarakat bisa kok berkunjung ke Bali tetapi harus mengikuti aturan yang ada.

Kebijakan pemerintah terkait dengan pembatasan ini mengatur terkait dengan kegiatan masyarakat di Pulau Bali dan memperketat mobilitas manusia yang berkunjung ke Pulau Dewata, demi meminimalisir angka infeksi corono.

Aturan tersebut tertera dalam Instruksi Mendagri Nomor 1 Tahun 2021, Surat Edaran (SE) Satgas Covid-19 Nomor 1 Tahun 2021, SE Gubernur Bali Nomor 1 Tahun 2021, serta SE Kemenhub Nomor 1-4 Tahun 2021.

Berikut ini aturan lengkap terbaru masuk ke Pulau Bali dan pembatasan kegiatan masyarakat di sana :

Aturan ke Bali naik pesawat

  1. Minimal menunjukkan hasil non-reaktif rapid test antigen. Hasil non-reaktif rapid test antigen sampelnya diambil maksimal 1×24 jam sebelum keberangkatan.
  2. Bisa juga menunjukkan hasil negatif tes RT-PCR Hasil negatif tes RT-PCR sampelnya diambil maksimal 3×24 jam sebelum keberangkatan.
  3. Mengisi electronic-Health Access Card (e-HAC). Anak di bawah 12 tahun tidak wajib rapid test antigen atau RT-PCR.
  4. Wajib lakukan 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak).
  5. Penumpang tidak diperkenankan makan dan minum sepanjang perjalanan kurang dari dua jam, tidak boleh berbicara satu arah maupun dua arah.

Aturan ke Bali naik transportasi darat pribadi/umum

  1. Minimal menunjukkan hasil non-reaktif rapid test antigen.
  2. Hasil non-reaktif tersebut sampelnya harus diambil maksimal 3×24 jam sebelum keberangkatan.
  3. Bisa juga menunjukkan hasil negatif tes RT-PCR. Hasil negatif tersebut sampelnya maksimal diambil 3×24 jam sebelum keberangkatan.
  4. Wajib mengisi e-HAC. Anak di bawah 12 tahun tidak wajib rapid test antigen atau RT-PCR. Akan ada tes acak di beberapa tempat, seperti di terminal penumpang, pelabuhan, sungai, danau, dan penyeberangan.
  5. Wajib lakukan 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak). Lihat Foto Ilustrasi Bali – Pura Besakih.

Aturan ke Bali lewat jalur laut

  1. Minimal menunjukkan hasil non-reaktif rapid test antigen.
  2. Pengambilan sampel hasil non-reaktif rapid test antigen maksimal 3×24 jam sebelum keberangkatan.
  3. Bisa juga menunjukkan hasil negatif RT-PCR.
  4. Pengambilan sampel hasil negatif RT-PCR maskimal 3×24 jam sebelum keberangkatan.
  5. Anak di bawah 12 tahun tidak wajib rapid test antigen atau RT-PCR.
  6. Wajib menunjukkan tiket dan/atau boarding pass beserta dokumen perjalanan khusus (KTP, tanda pengenal diri)
  7. Wajib mengisi e-HAC.
  8. Wajib lakukan 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak).

Pembatasan kegiatan masyarakat Bali

  1. Tempat wisata tetap buka secara normal (jumlah wisatawan terbatas, harus bisa jaga jarak di dalam lokasi).
  2. Khusus di Badung dan Denpasar, tempat makan kapasitasnya dibatasi maksimal 25 persen.
  3. Jam operasional untuk pusat perbelanjaan atau mall dibatasi sampai dengan pukul 19.00 WIB.

Nah kalo sudah perhatikan beberapa aturan yang ditetapkan pemerintah terkait PPKM, maka sobat traveler bisa kok tetap berlibur ke Bali.

Mungkinkah Vaksin Covid 19 Bisa Picu Ledakan Pariwisata?

Pandemi Covid 19 telah membuat sektor pariwisata di seluruh dunia anjlok. Hal itu pun dialami oleh pelaku bisnis pariwisata Indonesia. Namun dengan keberhasilan program vaksin Covid 19 bisa menjadi pemicu ledakan pariwisata di tahun 2021.

Pengamat pariwisata dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Deria Adi Wijaya menyatakan optimis, geliat pariwisata akan bangkit dengan adanya program vaksinasi missal.

Jika vaksinasi massal  berhasil maka pandemi berakhir dan pariwisata akan meledak lagi karena masyarakat sudah lelah menunggu dan sudah menahan diri untuk tidak beraktivitas diluar lingkungan secara bebas.

Meski demikian, untuk tahun 2021 wisatawan masih akan mendatangi destinasi wisata yang menerapkan protokol kesehatan dan membawa surat keterangan negative covid 19.

Adaptasi baru mulai dari menggunakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan, hingga surat keterangan bebas Covid-19 menjadi bagian dari kebijakan yang nantinya membiasakan wisatawan beradaptasi dengan kebijakan pemerintah tersebut.

Sementara itu, dari sisi destinasi wisata, Candi Borobudur masih akan menjadi tujuan yang favorit wisatawan baik domestik maupun asing. Ini tidak dilepaskan dari eksistensi Borobudur sebagai destinasi pariwisata Indonesia sejak dulu. Borobudur merupakan magnet pariwisata yang besar dan banyak wisatawan dari berbagai negara tertarik untuk mengunjungi salah satu keajaiban dunia tersebut.

Selanjutnya adalah Danau Toba, Mandalika, dan Labuan Bajo juga punya prospek kunjungan wisatawan yang bagus pada tahun 2021.

Mandalika akan menjadi destinasi ini menjadi magnet besar karena akan menjadi tempat sirkuit MotoGP,  yang memiliki kelas dunia. Jadi, bisa dibayangkan seluruh dunia jika ada sirkuit GP di situ akan banyak mengalokasikan waktu dan potensi mereka untuk berkunjung ke Mandalika.

Kekecewaan Pebisnis Pariwisata Bali Terkait Swab

Kebijakan Test swab bagi para wisatawan yang akan berkunjung kembali menuai kekecewaan bagi para pelaku bisnis pariwisata. Pasalnya libur akhir tahun telah dinantikan sebagai obat pulihnya pariwisata di Bali.

Wisatawan yang ke Bali wajib menunjukan surat keterangan hasil negatif uji swab berbasis PCR minimal dua hari sebelum keberangkatan. Bagi mereka kebijakan ini dirasa mendadak dan membuat calon wisatawan yang sebelumnya hendak ke Bali membatalkan kunjungannya.

Hampir seluruh anggota persatuan sopir pariwisata yang beranggotakan 500 orang ini mengeluh karena banyak yang batal. Padahal, momen libur tahun baru ini seperti memberikan setitik harapan di tengah lesunya pariwisata.

Pasalnya hampir delapan bulan ini Bali terguncang dengan merosotnya angka kunjungan wisatawan dalam maupun luar negeri. Hampir semua mengatakan perjalanan ke Bali di tangguhkan.

Mewajibkan tes swab PCR membuat wisatawan domestik berpikir ulang untuk liburan ke Bali karena ada tambahan biaya. Ia berharap, pemerintah kembali membuka Bali seperti biasa dengan syarat protokol kesehatan yang ketat.

Hal yang sama diungkapkan oleh Ketua DPD Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Bali Yoga Iswara. Menurutnya, kebijakan itu membuat banyak terjadi pembatalan pesanan oleh wisatawan kepada hotel-hotel yang ada di Bali.

Saat ini, pihaknya masih menghitung jumlah pembatalan yang terjadi. Belakangan ini kondisi tingkat hunian hotel di Bali sudah perlahan membaik meski belum pulih sepenuhnya. Pada dua pekan bulan Desember ini, tingkat hunian sudah di angka 40 hingga 60 persen.

Ia berharap, kebijakan semacam ini harus dikomunikasikan lebih baik dan tidak mendadak. Apalagi, Bali telah menerapkan protokol kesehatan ketat atau CHSE (cleanliness, health, safety & environment sustainability) bagi pelaku pariwisata.

5 Tips Traveling Saat Pandemi

Kondisi pandemi Covid 19 yang saat ini memaksa masyarakat dunia untuk berdiam dirumah, namun setelah masa new normal ini maka banyak orang yang tak sabar untuk berlibur. Nah sebelum berlibur sebaiknya kamu harus memperhatikan tips-tips dibawah ini.

  1. Siapkan Dokumen

Salah satu yang dipersiapkan untuk berlibur dimasa pandemi ini diantaranya dengan menyiapkan dokumen yang menjadi hal wajib bagi setiap yang melakukan perjalanan jarak jauh.

Surat keterangan berdasarkan hasil tes PCR (swab) atau rapid test, saat ini telah menjadi tiket khusus untuk setiap orang yang ingin melakukan perjalanan menggunakan transportasi umum dan penginapan. Selain hasil rapid test, Surat Keterangan Keluar Masuk (SIKM) juga masih diwajibkan untuk warga Jakarta yang keluar masuk dengan transportasi udara.

Rapid test merupakan salah satu syarat bagi penumpang angkutan niaga berjadwal, maupun carter yang akan melakukan perjalanan ke luar kota. Aturan tersebut sesuai dengan Surat Edaran Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nomor 7 Tahun 2020 dan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 41 Tahun 2020.

  1. Perhatikan Peraturan New Normal di Setiap Destinasi

Dengan adanya new normal ini, maka banyak peraturan dan protokol dalam berwisata. Pastikan sudah mencari tahu infonya. Peraturan itu bisa terkait pembatasan jumlah tamu, penggunaan masker, pembelian tiket, dan lain sebagainya.

  1. Siapkan Starter Pack

Untuk menjaga agar tetap higienis, hygiene kit bisa menjadi senjata dan wajib kamu bawa saat traveling. Isi dari hygiene kit antara lain hand sanitizer, disinfektan spray, tisu basah, tisu kering, dan sabun cair.

Selain itu, barang yang paling wajib kamu bawa adalah masker. Di era new normal, masker menjadi salah satu hal wajib agar kamu dapat bepergian ke mana pun. Kamu bisa menggunakan masker utama dan membawa beberapa masker cadangan dalam tasmu. Jangan lupa membawa kantung untuk menyimpan masker bekas pakai.

  1. Staycation

Saat pandemi, staycation memang menjadi salah satu alternatif menarik untuk liburan atau sekadar refreshing, setelah beberapa bulan melakukan self-isolation di rumah tanpa perlu ke luar kota. Terlebih, saat ini hotel-hotel di Indonesia telah menerapkan protokol kesehatan yang ketat untuk tamunya, seperti halnya Hotel Pullman Jakarta Thamrin.

Berdasarkan pantauan kumparan beberapa waktu lalu, protokol new normal sudah bisa dijumpai saat memasuki hotel. kumparan pun harus mengisi form registrasi secara online melalui pemindaian kode QR dengan menggunakan smartphone.

Sebelum masuk ke hotel kamu juga akan menjalani pemeriksaan suhu tubuh (tidak boleh lebih dari 37,3 derajat Celsius). Serta penyemprotan luggage dengan cairan disinfektan. Baru setelah itu para tamu bisa melakukan proses check-in.

  1. Tentukan Destinasi Wisata

Selama kasus COVID-19 belum menunjukkan penurunan yang berarti, sebaiknya pilih daerah liburan atau destinasi wisata yang tidak terlalu berdampak alias zona hijau. Traveling atau liburan di destinasi wisata yang berada di zona hijau dapat menurunkan risiko terpapar virus corona.

Selain itu, tempat wisata alam diprediksi akan jadi pilihan utama masyarakat untuk berlibur saat masa new normal. Jenis destinasi wisata ini dianggap akan memberikan manfaat yang besar dengan risiko rendah terhadap kesehatan.